Skip to main content

Gunung Ciremai


Suatu pagi saat berkemah di Gunung Ciremai, aku bangun dari tidur. Kulihat langit sudah mulai terang cahaya yang masuk ke tenda. Suara burung-burung terdengar bersahutan satu sama lain, “cuiitt cuiiitt” begitulah bunyinya. Kemudian aku keluar dari tenda. Kuhirup udara segar pagi itu dan kulihat di sekeliling masih berkabut. Tak lama kemudian matahari mulai terbit, kabut pun sudah mulai hilang ditambah banyak embun di pepohonan dan semak belukar. Laut Cirebon dan puncak Gunung Slamet terlihat dari sini, puncak Gunung Ciremai pun mulai terpapar oleh sinar matahari.

Pada pukul 12.00, terdengar jalanan sudah ramai oleh kendaraan di bawah sana. Pemandangan Laut Cirebon dan Gunung Slamet pun perlahan-lahan mulai tertutup oleh awan. Panas matahari pun mulai terasa ke kulit, tapi masih diiringi dengan hembusan angin yang membuat badan sejuk. Tak lama kemudian, suara adzan dari pemukiman di bawah mulai terdengar saling bersahutan. Pada saat itulah enaknya berteduh di bawah pohon yang rindang, sambil merasakan angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Pada saat hari mulai sore, sekitar pukul 16.30, terlihat langit sudah mulai tidak berwarna biru lagi. Tak lama kemudian, langit mulai berwarna oranye dan matahari pun mulai terbenam. Udara mulai terasa dingin dan “kriikk… kriiikk…” terdengar suara jangkrik mulai bermunculan. Pada saat itu juga lampu-lampu pemukiman di bawah mulai menyala. Tak lama kemudian, langit mulai gelap, suhu udara pun semakin dingin. Terlihat langit dipenuhi oleh bintang-bintang yang indah. Lampu-lampu di pemukiman bawah pun semakin banyak terlihat seperti bintik-bintik kecil. Untuk mengurangi rasa dingin, dibuatlah api unggun dan aku menyeduh segelas kopi agar badan terasa hangat sambil duduk di depan tenda.

Suasana semakin sunyi, hanya ada suara jangkrik dan sedikit keramaian di jalanan pemukiman bawah. Karena merasa sudah tidak kuat dingin dan rasa sedikit mengantuk, aku pun masuk tenda. Nikmatnya tidur di tenda dengan menggunakan sebuah kantung tidur atau yang biasa disebut sleeping bag. Badan terasa hangat dan tidak lama kemudian aku pun tertidur.

Comments

Popular posts from this blog

Teks Deskripsi Permen Yupi

Pada suatu pagi hari di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia, kami diberikan tugas untuk mendeskripsikan sebuah permen bermerk Yupi yang kemasannya kecil berwarna biru. Permennya beragam warna dan berbentuk beruang. Ketika dibuka, terdengar suara "kresek" di kemasannya. Permennya yang kenyal dan lengket ketika dipegang, serta aromanya yang wangi seperti buah-buahan. Pada saat dimasukkan ke mulut, rasanya ada yang manis dan asam tergantung dari warnanya. Ketika dikunyah terasa kenyal di mulut.